Di sebuah rumah sederhana di Dusun Masjid Al Ansor, Kota Subulussalam, Aceh, aroma kue goreng yang baru diangkat dari minyak panas menguar memenuhi udara. Di balik meja kayu yang sudah mulai kusam, berdiri sosok perempuan paruh baya dengan senyum hangat namun mata yang menyimpan cerita panjang; Ibu Rasidahwati Bancin.

Bagi sebagian orang, dapur adalah tempat memasak.
Bagi Ibu Rasidah, dapur adalah medan perjuangan.
Suami yang dulu menjadi penopang keluarga, mengelola bengkel di Jalan Cut Nyak Dien, telah berpulang setelah bertahun-tahun berjuang melawan stroke. Penyakit itu dimulai secara tiba-tiba; pada Hari Raya Idul Fitri, setelah menyantap hidangan, tekanan darahnya melonjak hingga 200. Satu sisi tubuhnya lumpuh, dan selama lima tahun pertama, ia masih bisa dibantu bergerak.
Namun, di tahun keenam dan ketujuh, kondisinya memburuk menjadi lumpuh total. Makan harus melalui selang. Semua tabungan habis, barang-barang bengkel dijual satu per satu. Hingga akhirnya, takdir berkata lain: sang suami pergi untuk selamanya.
Kini, Ibu Rasidah harus berdiri sendiri. Menghidupi empat orang tanggungan, termasuk anaknya, Inka Rasina; anak yatim yang kini menjadi bagian dari program Care for Orphan Global Ehsan Relief Indonesia
Berbekal kecintaannya pada dunia memasak, ia memberanikan diri meminjam uang dari saudara untuk modal berjualan kue. Harapannya sederhana; ada penghasilan harian untuk menutupi kebutuhan rumah dan pendidikan anak-anak.
Namun kenyataan tak selalu seindah mimpi. Kadang kue yang dijual tak habis. Modal terus menipis.
Tak menyerah, Ibu Rasidah bekerja sebagai tukang masak di sebuah rumah makan di perbatasan Subulussalam–Singkil, dari pukul 10 pagi hingga 3 sore. Setelah itu, ia masih berjalan kaki pulang, berganti pakaian, lalu berangkat lagi ke sungai sejauh 45 menit untuk memetik kangkung liar dan genjer.
Kangkung ia jual Rp 500 per ikat. Genjer, Rp 5.000 untuk tiga ikat. Hanya sekali seminggu, hari Sabtu, ia bisa mengandalkan pemasukan dari sayur liar itu. Pernah, ia harus memikirkan berhari-hari bagaimana membeli 1 kg minyak goreng. Tapi rasa lelah selalu kalah oleh rasa sayangnya pada anak-anak.
Di tengah perjuangan itu, datanglah Ehsan Berdaya dari Global Ehsan Relief Indonesia. Bukan hanya sekadar memberi, tapi menguatkan.

Ibu Rasidah mendapat bantuan modal dan peralatan usaha: kompori, belanga, sendok sayur, serokan, minyak goreng, tepung, gula, telur, hingga bumbu dapur. Bagi sebagian orang, daftar ini mungkin terlihat sederhana. Tapi bagi Ibu Rasidah, ini adalah napas baru bagi usahanya.
Kini ia bisa memproduksi kue lebih banyak tanpa khawatir kekurangan bahan. Ia berdiri di depan SPBU Galon Oyon setiap pagi, menjajakan kue buatannya dengan senyum penuh harapan.
“Alhamdulillah… semoga usaha saya ini berjalan lancar, rezeki saya dilapangkan, dan anak-anak bisa meraih masa depan yang lebih baik,” ucapnya sambil menatap tim Global Ehsan Relief Indonesia dengan penuh syukur.
Di balik aroma manis kue yang ia goreng setiap hari, tersimpan sebuah pelajaran berharga: bahwa di tengah keterbatasan, keberanian untuk mencoba lagi adalah resep terbaik untuk melanjutkan hidup.


